Tampilkan postingan dengan label Info. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info. Tampilkan semua postingan

26 Des 2017

Koyeidaba ketemu wodeyokaipouga di Debei


Oleh Methu CS Badii
Dalam buku Wodeyokaipouga Bobii, Nabi yang terlupahkan, satu bagiannya dijelaskan mengenai pertemuan “koyeidaba dengan wodeyokaipouga” di tadauto, debei, tigi barat, Deiyai, pertemuan antara wodeyokai pougabobii dan koyeidaba terjadi awalnya koyeidaba dikejar dari daerah kamuu karena diancam bunuh,  koyeidaba menurut cerita rakyat (Mite)  suku Mee yaitu Yesus : Juru selamat manusia atau Mesias.

Koyeidaba diancam untuk dibunuh karena dianggap peredam makanan, harta dan ternak, merampas, penghilangkan kekayaan suku Mee, karena pada saat itu di daerah makewapa, Dogiyai sedang terjadi krisis kelaparan, sehingga masyarakat setempat sepakat untuk disingkirkannya.

Mereka mulai kejar dari daerah kamu, masuk wilayah  tigi barat, perjalanan panjang tidak sempat di tangkap, mereka trus kejar sampai didaerah Debei, dari sini terjadi perdebatan, apakah koyeidaba dibunuh atau tidak namun semua sepakat, tapi hanya "Wodeyokai pougabobii dan 12 Orang pengikutnya” yang sembunyikan koyeidaba di Goa (biyodoba) di kampong Tadauto, wilah Debei, Distrik Tigi Barat.

(Wode Yokaipouga adalah pengajar  tota mana yang selanjutnya disebut Nabi, dia mempunyai 12 murid, mereka jalankan masing-masing tugas, ada yang tugas untuk urusan (makan bersama dan minum bersama), ada yang tugas untuk  urusan doa  bersama  dan ada juga tugas jalan kegiatan sosial, yang lain juga mendapat tugas sesuai dengan tanggung jawab yang dibebankan oleh Wode Yokaipouga, melihat ajaran wodeyokaipoga tersebar, banyak masyarakat disekitarnya tidak senang kegiatan yang dilakukan wodeyokaipouga  dinilai negative ajaran “tota mana atau touye mana” yang diajarkan oleh Wodeyokai pougabobii, masyarakat sekitarnya sering datang menyerang wodeyokai pougabobii dan pengikutnya, namun mereka tidak berhasil, mereka datang menyerang tapi kembali dari pertengahn jalan, datang menyerang namun  redahkan niat mereka dengan kebaikan wodeyokaipouga dengan cara sediakan  makanan (yapei mee nota oyou/onai).

 dalam situasi wodeyokaipouga dan pengikutnya, sedang hadapi ancaman dari orang lain atau masyarakat kampung lain, muncul kabar bahwa koyeidaba sedang dikejar dari kamu, masuk wilayah tigi, masuk di daerah debei, wodeyokaipouga dan pengikutnya sepakat untuk lindungi atau sembunyikan koyeidaba, setelah masuk di daerah debey, tepatnya di kampung digibagata, mereka mulai berdebat soal koyeidaba, sementara berdebat diam-diam wodeyokai pougabobii dan pengikutnya sembuyikan koyeidaba digoa (biyo doba) di kampong Tadauto, setelah sembuyikan didalam goa (biyodoba), wodeyokai pougabobii dan pengikutnya pura-pura kejar seseorang dari tadauto ke arah ataidimi supaya orang pikir koyeidaba sudah lewat dan masuk ke wilayah botumoma, puweta didaerah kamu. 

selanjutnya hari pertama wodeyokaipouga dan pengikutnya kasih makanan ke goa koyeidaba menyampaikan bebarapa hal kepada wodeyokaipouga, namun hal tersebut  masih dirahasiakan sampai sekarang, setelah  itu kunjungan kedua koyeidaba berjanji, saya tidak akan ada disini, saya akan pergi jadi saya akan simpan saya punya "hati" jadi kalian datang ambil (aniya kegepa nipo kiya makitoupigaka motigou).

setelah beberapa hari kemudian, mereka datang ke Goa (biyopa) untuk cek janji tersebut, namun di goa tersebut koyeidaba tidak ada, hati (kegepa) yang dijanji  untuk ambil juga tidak ada, wodeyokaipogabobii dan pengikutnya mulai cari di sekitar goa, mereka hanya temukan ceceran darah (emo tagi) disekitar goa, dan rumput disekitar goa tampak basa (habis kencing).  

sudah cari sekitar goa dan janji untuk  ambil hati (kegepa nipo) itu, namun mereka tidak dapat, tampak baru saja ada orang lain ambil duluan lalu pergi, Wodeyokai pougabobii  dan pengikutnya ikut bekas kaki perempuan yang sedang bawa pergi hati (kegepa) tersebut, dipertengahan jalan mereka tahan dia, mereka mulai nuntut  hati (kegepa) yang dia bawah pergi untuk segera kembalikan, hati (kegepa) tersebut  koyeidaba janji ke kami, jadi segera kembalikan ke kami, namun perempuan tersebut  mengaku tidak ambil, dari sana kami ada kejar darah buntut sampai mama jadi mohon kembalikan, namun perempuan tesebut ngaku darah tersebut sedang mens atau haid, tapi  karena Wodeyokai pougabobii dan pengikutnya bersih keras,  perempuan tersebut mulai jujur "benar hati (kegepa) ini kalian punya, koyeidaba janji buat kalian, saya cuma pegang saja, nanti ada saatnya saya akan kasih dan saya akan kasih keluarkan ditengah orang banyak.

setelah perempuan itu, mengaku bahwa dia yang ambil, dan dia hanya pegang sementara, wodeyokaipouga dan ke12 pengikutnya biarkan dia bawa pergi, ceceran darah yang ditemukan tidak jauh dari goa,  sekarang tumbuh sayur hitam (digiyo napo), orang biasa petik banyak tapi  tidak pernah habis dan justru bertambah dan berkembang,  rumput yang ditemukan basa, sekarang terbentuk jadi kali kecil, warga sekitarnya beri nama kali kecil itu"woo waino" atau air mengalir keatas atau mengalir berputar, air tersebut jernih tidak pernah kering, orang sakit kalau  minum air tersebut, menurut cerita biasanya sakit sembuh,Terlepas dari itu, setelah Wodeyokai pougabobii meninggal dunia diperkirakan pada tahun 1920an, ajaran totamana diteruskan oleh gererasi selanjutnya, hingga saat ini generasi ke 7 (tujuh) masih pertahankan ajaran tota mana,sudah ditetapkan tanggal 9 Mei  sebagai Hut Totamana  biasa diperingati tiap tahun.(*). 

Penulis adalah mantan Wartawan Media Online dan Majalah, Tinggal di Bandung.
baca

28 Feb 2017

Tujuh Suku & Freeport

Oleh : Methu Cs Badii

Di Area Kerja PT. Freeport Indonesia dikenal dengan istilah “tujuh suku” dalam bahasa gaul disebut “seven tribes” yakni karyawan yang berasal dari  masyarakat local yang mendiami di wilayah kerja perusahan raksasa yang berada di timika, tujuh suku yang dimaksud diantaranya yaitu suku Amungme, Kamoro, Mee, Moni, Dani, Damal, Nduga, mereka adalah 7 dari  250an suku yang mendiami di tujuh wilayah adat papua. Suku kamoro berada  dibagian pantai selatan papua, kalau masuk diarea perusahan yaitu pelabuhan Amamapare “tempat pengapalan emas dan tembaga yang diambil dari underground dan Grasberg, kemudian drop ke pabrik peleburan mile74 dan alirkan melalui pipa tambang, keluar di portsite dan ekspor keluar negeri sesuai kebutuhan lebih dari 33 Negara  yang mendapatkan barang menta dari freeport Indonesia” kalau masuk diwilayah pemerintahan, pelabuhan itu disebut Paumako,  tempat ini tampak rumah masyarakat kamoro berjejer ditepian pantai, derasnya ombak tiap hari menghantam tiang rumah panggung yang berdiri diatas pasir, mereka hidup tanpa penghasilan tetap, tidak banyak yang kerja di PTFI dan PNS, kalaupun ada bisa hitung dengan jari.

Sedangkan  Suku Amungme termasuk lima suku kerabat lainnya, berada dibalik gunung Nemangkawai yang perusahan katakan “Grasberg” sementara  pemerintakan sebut “tembagapura” ini melintang luas di pegunungan tengah papua, papua yang orang lain biasa juluki “surga kecil yang jatuh ke bumi” karena berlimpah akan kekayaan alam yang Tuhan berikan kepada  orang papua umumnya dan khusus tujuh suku.
soal tujuh suku bukan nama ejekan dan  bukan juga sindiran pihak tertentu, menurut pencetus istilah tujuh Suku, Nikodemus Kadepa, mengatakan tujuh suku adalah nama sebuah identitas karyawan yang berasal dari masyarakat local yang kerja di PTFI, dan mereka juga adalah pemegang hak ulayat gunung yang mengandung “emas dan tembaga” yang Indonesia klaim “dapur” yang memberi makan puluhan negara di dunia ini.

“Tujuh suku” tidak hanya sebatas identitas dari sejumlah suku yang berada di daerah operasi pertambangan, namun tujuh suku memiliki sebuah status khusus yang sudah diakui dalam pedoman kerja Freeport-McMoRan sebelum nasionalisasi menjadi Freeport Indonesia, “status 7 suku sudah terdaftar dalam pedoman dasar freeort Mcmoran melalui kebijakan ijin operasi perusahan asing di Indonesia  dengan nomor (FM-2003.05) yang diperbaharui oleh Freeport Indonesia  dengan nomor ( FM-2003.16) dan disetujui dewan direksi freeport MCMoran dan Dewan Komisaris PTFI pada tanggal  1 April 2003 disahkan 7 Desember 2004).

“dalam pedoman dasar tersebut, tercatat lima bidang, salah satunya diatur mengenai “Status khusus karyawan tujuh suku” sedangkan empat program lainnya  “urusan karyawan dan perusahan, perlindungan hak asasi manusia dan hubungan kerja perusahan dengan pemerintah serta pengembangan ekonomi Masyarakat tersebut sudah dijalankan oleh perusahan, namun “perekrutan, pelatihan dan promosi untuk karyawan tujuh suku sesuai dengan rangkuman yang ada dalam pedoman kerja PTFI hingga sekarang belum dijalankan.

perusahan terkesan melakukan pembiaran terhadap status 7suku di tengah kebijakan perusahan yang dipukul rata semua karyawan dengan karyawan papua dan karyawan nonpapua, pada hal aryawan  tujuh suku sudah diatur khusus dalam pedoman tersebut, namun menjadi pertanyaan adalah kenapa Freeport Indonesia belum jalankan pedoman tentang status khusus tujuh suku yang ditetapkan freeport McMoran hingga sekarang memakan puluhan tahun ini.?


untuk menjawab pertanyaan ini..?penulis telah melakukan wawancara khusus bersama Sekretaris Jendral Tim Pembedayaan, Menase Degey, kepada media mengatakan, tim pemberdayaan tujuh suku hadir di lingkungan perusahan  untuk menjalankan dua tujuan Utama,  pertama “untuk menutupi kekuranagn perusahan, kedua untuk memproteksi harga diri  tujuh suku”  pemberdayaan 7suku hadir untuk menutupi kekurangan perusahan karena  “pihak lain yang selama ini  kontra dengan PTFI sedang persoalkan apa yang belum dilakukan oleh perusahan terhadap karyawan tujuh suku”  pihak-pihak tersebut biasa layangkan tuduhan miring dengan mengancam eksistensi perusahan yakni isu lingkungan, Isu Hak Asasi dan isu sentitif lain yang berkaitan dengan masyarakat local.

 kedua, tim pemberdayaan hadir untuk memproteksi harga diri tujuh suku karena, Menurutnya, selama ini  karyawan tujuh suku terkesan diabaikan oleh perusahan dan dinilai  sedang  manfaatkan pihak lain atas nama tujuh suku hinggsa saat ini memakan puluhan tahun, oleh karena itu tim pemberdayaan siap merebut kembali statuta tujuh suku dan akan menerapkan konsep yang ideal dengan  memperbaharui system.

menurut Inisiator tim pemberdayan, Nikodemus Kadepan di Dampingi Jeky Amisim, kepada media ini menjelaskan untuk perekrutan karyawan 7suku akan terapkan “satu pintu” baik prekrutan karyawan nonstaff atau karyawan staff harus masuk melalui “pintu pemberdayaan”,  tidak seperti selama ini perekrutan besar-besaran dilakukan oleh perusahan melalui  berbagai pintu tanpa mempertimbangkan tenaga kerja local, terbukti karyawan tujuh suku tidak banyak bahkan tidak sama sekali juga ada disetiap departemen (coba lihat, berapa karyawan papua.? berapa karyawan tujug suku yang ada.?

Sekalipun ada hanya mengembang jabatan clerk, jabatan Kuli atau teknisi, sedangakan jabatan foreman atau Officer hingga Manajer dan Vice Presiden di kuasai oleh orang amber dan lainnya.tidak sadar perusahan ini ada dimana.? tidak sadar perusahan sedang menguras kekayaan papua.? Tidak sadar diarea kerja ini ada tujuh suku.? justru dinilai belum kompoten atau belum mampu tanpa memberikan kesempatan untuk mencoba, Dan  dianggap belum mampu tanpa melihat sejauh mana diberikan kesempatan untuk pelatihan.

 Itu sebabnya tim pemberdayaan akan bergerak memperbaharui system pelatihan yang sebelumnya pengembangan akan rubah menjadi pemberdayaan, dengan konsep pemberdayaan akan membuat karyawan merasa memiliki perusahan besar ini, yang mana selama ini,karyawan dikembangkan dari apa yang dia miliki, dikembangkan dari apa yang dia pahami namun bedah dengan konsep pemberdayaan, dimana karyawan diberdayakan dan mampu melakukan, diperdayakan sehingga menjadi cerdas dan diperdayakan untuk siap melakukan apapun tanpa ada arahan dari pihak lain.dengan demikian karyawan tersebut merasa bahwa pribadinya dirubah oleh system bukam merasa ditindas oleh system, maka karyawan yang dimaksud merasa memilik perusahan ini sebagai tempat diamana dia mencari nafkah yang dia mesti memproteksi, bukan dianggap sebagai tempat dimana dia merasa diperlakukan bukan sebagai pemilik negeri,

oleh karena itulah tim pemberdayaan bertindak sebagai mediator antara karyawan tujuh suku dan perusahan untuk sama-sama melihat masalah yang ada dan membenahinya, bahkan melihat ancaman dari luar yang dialamatkan kepada perusahan dengan memamnfaatkan salah satu dari dua yang dijelaskan diatas yakni ”promosi” untuk karyawan 7suku. dinilai belum berjalan maksimal oleh pimpinan dari masing-masing departemen, dimana dalam penilian semua karyawan (papua dan non papua) disamakan tanpa ada kekhususan untuk karyawan 7suku, sehingga ketika dilakukan uji kompotensi  belum mampu mencapai target yang tetapkan oleh perusahan sehingga terkesan hanya untuk menekan karyawan 7suku agar tidak promosi.

Tindakan ini dinilai diskriminasi dalam hal promosi dimana karyawan papua dan non papua berjalan lancar dan bahkan diberikan pengecualian sementara karyawan tujuh suku berjalan ditempat alias macet. pengecualian juga jarang ada bahkan nasip karyawan tujuh suku terkesan dipatok hanya sebatas status karyawan dan tidak harus naik level dan grade. dengan demikian, kembali bertanya, kepada perusahan dan karyawan tujuh suku, apakah kita bersatu loloskan perusahan  ini dari ancaman yang datang dari luar yang tidak pro dengan kebijakan perusahan terhadap karyawan tujuh suku..? atau kita bersama mengatasi persoalan yang pihak lain menjadikan tujuh suku sebagai objek untuk menyerang freeport..?

perusahan seharusnya akomodir keluhan dari karyawan tujuh suku, selain membantu perusahan untuk menepis gempuran dari luar dengan tuduhan miring dan kaeyawan tujuh suku yang ingin memproteksi harga diri yang tersirat dalam pedoman dasar freeport Mcmoran tersebut. diperusahan ini semua sama, tidak melihat kamu dari mana.? tidak melihat apa jabatan kamu.? kita sama karyawan yang harus menjalankan aturan, perusahan juga mematuhi kewajibannya, karyawan juga mendapatkan apa yang menjadi haknya, termasuk hak karyawan tujuh yang sedang menuntut ini.



Penulis adalah Mahasiswa Papua Kuliah Di bandung 13 Sept 2016.
baca

29 Jun 2016

Pater Vincent: Gereja Seruhkan Krisis Kemanusian di Papua

Pemimpin - pemimpin Gereja di tanah Papua harus bersatu dan melibatkan umatnya di LSM, SKP, kampus dan faksi-faksi serta organ-organ pergerakan  di tanah Papua untuk secara bersama-sama menyeruhkan krisis kemanusiaan di tanah Papua ke tingkat nasional dan internasional,

Pater Vincent Suparman, SCJ,  Rabu (26/06/13) kepada mmedia ini, menuturkan, gereja-gereja di tanah Papua harus bersatu untuk seruhkan krisis kemanusiaan di Papua.  Lima uskup di Papua dan Sinode dari gereja-gereja Kristen di Papua mesti bersatu. "Harus bersatu dan bangkit menyuarakan segela macam tindakan tidak manusiawi  yang sedang dialami oleh umatnya di tanah Papua,

"Selama 10 tahun melayani di pedalam Papua, saya melihat masyarakat di sana,  selain hidup menderita secara ekonomi, juga masih hidup di bawah kekerasan dan tekanan militer Indonesia. Masa depan Papua tidak pasti, orang Papua mau ibadah dilarang, tulis buku soal Papua dilarang, rekam lagu Papua dilarang dan mau demo juga dilarang. Semua kegiatan kegiatan itu dianggap makar dan diadili dengan hukuman yang tidak adil," kata Pater.


Lanjut Pater, orang Papua sudah banyak yang korban, belum lagi penjajahan dan pembunuhan sedang terjadi di tanah Papua. Maka, kata dia, orang Papua harus bersatu dan berjuang untuk hidup damai di negerinya sendiri.
"Saya melihat, sejumlah persoalan yang ada di tanah Papua itu  akarnya masalahnya adalah sejarah penggabungnya Papua ke Indonesia," ujar Pater yang kini melayani salah satu gereja di  Fort Thompson, Amerika Serikat ini.

Lanjut Pater, pelanggaran HAM di Papua terjadi akibat sejarah Papua. Orang Papua klaim sejarah Papua belum final karena penentuan pendapat  rakyat (Pepera) 1969 langgar hukum internasional. Sementara Indonesia klaim sejarah Papua sudah final melalui Pepera.

Solusinya menurut dia adalah  melalui suatu dialog bermartabat yang dimediasi oleh pihak ke tiga yang netral seperti yang di dorong oleh Pater Neles Tebay melalui Jaringan Damai Papua. "Saya pikir suara dari rakyat Papua menjadi modal para Uskup dan Vatikan untuk mendukung," tutur Pater Vinsent dari Amerikan Serikat.

Pater tekankan, semua orang Papua harus sayangilah masa depan orang Papua sendiri. "Jangan hanya terima kenyataan buruk terus, harus ada sikap perlawanan menentang segala bentuk penjajahan. Hidupkan kembali semangat  hidup dan kebangkitan era 1961/1962 yang telah dipadamkan itu," tuturnya. 

Penulis : Methu Cs
baca

Bersepeda,Jeremy Bally Kampanye Konflik Papua di 7 Negara

 Oleh : Methu Cs Badii
Cerita ini unik bagaimana orang di luar sana ikut merasakan tentang apa yang terjadi dan dialami orang Papua selama 50an tahun. Bukan soal suku, ras, agama tetapi benang merah menyatunya rasa Jeremy Bally adalah kita satu manusia. Jeremy Bally (25) memberikan tenaga, waktu dan pikirannya secara unik untuk orang Papua dengan keliling 7 negara dengan sepeda. Ia memberi  perjalanan panjang yang disebut, "Pedailing for Papua".

Sejak tahun lalu (2012), Bally berbicara  di gereja, festival, kedai kopi, ruang keluarga di Kanada tentang bagaimana 300 lebih suku di Papua tidak hanya mengidentifikasi diri hanya sebagai orang  Dani, Lani, Korowai, Mee, Moni, Marin, Ayamaru, Biak, dan lainnya. Tetapi, kata dia, telah  juga mengatakan diri sebagai satu bangsa dan berjuang untuk menentukan identitas mereka sebagai manusia.

Seperti dikutip thevalleyvoice.ca, penyebab utama perjuangan orang Papua adalah apa yang banyak pengamat juluki sebagai genosida gerak lambat yang mereka alami saat ini  dan tentu identitas merupakan tema yang menentukan perjuangan Papua Barat.

Pada perjalanan tahun lalu itu, Bally telah menarik Lush Cosmetics sebagai sponsor utama. Lush mendanai perjalanan enam bulan ke depan ke 7 negara, Kanada, Timur Laut Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Irlandia, Selandia Baru, dan akan berakhir Australia. Perjalananan ini telah ia awali dari Montreal, ibu kota Canada ketika itu 30 Juni 2013,
Unik memang,  sepedanya yang Bally gunakan untuk keliling ke nagara-negara itu.  Di belakangnya telah ia pasang bagasi untuk penyimpan persediaan makanan, diapit bendera Kanada dan bendera Papua, Bintang Kejora. Membawa serta proyektor, laptop, dan ukulele, sesekali berhenti untuk memanjat pohon. Tidak hanya sepedanya yang unik. Cara Bally  mengatakan tentang kondisi Papua saat ini dan bagaimana keinginan orang Papua saat ini  ke negara-negara itu juga unik.

Dalam perjalanan itu, Bally  berhenti di mana saja terdapat gereja, festival, kedai kopi, atau bahkan ruang keluarga. Di sana, ia menyiapkan peralatan presentasinya untuk menceritakan kisah rakyat Papua Barat dengan bantuan proyektornya.
Pemutaran film, puisi, lagu-lagu dengan diiringi  ukulele tentu memiliki daya tarik universal untuk segala usia dan latar belakang. Lagu  milik  Arnold  Ap  merupakan salah satu dari 5 lagu di Pedalling untuk Papua.Dengan cara yang unik, Bally mampu memberitahu  kepada semua orang yang ia jumpai tentang bagaimana orang Papua mengalami kekerasan negera selama 50 tahun lamanya dan  tidak banya diketahui dunia internasioanl.

Dikutip  leaderpost.com, Bally mengatakan, diperkirakan 100.000 - 500.000 orang Papua Barat telah tewas sejak pendudukan, meskipun jumlahnya sulit untuk mengkonfirmasi karena kontrol pemerintah yang ketat dan larangan media mencekik. Memperjuangkan kemerdekaan secara damai seperti pengibaran bendera Papua Barat atau menyerukan hak asasi manusia ditekan oleh Indonesia.

Genosida gerak lambat adalah "konflik dunia yang paling dilupakan" dan "pembunuhan massal" adalah beberapa istilah yang telah digunakan ahli untuk menggambarkan situasi.

Bocoran video diposting di YouTube penyiksaan, pembunuhan, dan penyalahgunaan Papua Barat oleh tentara negara menunjukkan realitas mengerikan dari istilah-istilah ini.Dikatakannya, kondisi ini bisa terjadi mungkin karena Papua Barat memiliki sejumlah besar sumber daya alam, termasuk beberapa tembaga terbesar di dunia dan tambang emas.

Kondisi ini  belum  banyak didorong ke tingkat internasioanal. Dalam kondisi ini, bagi Bally, peningkatan kesadaran dan aksi solidaritas politik Papua Barat mendesak. Tantangan kampanye ini dan dengan kampanye tentang isu-isu internasional secara umum selalu membuat isu-isu dan orang-orang jauh dari kita merasa dekat, jika tidak secara fisik, dalam jiwa.

Maka, dengan Pedailing for Papua, Bally  mengatakan, ia benar-benar bisa menjelaskan kepada orang bagaimana ia datang untuk mendedikasikan diri untuk Papua, dan memberikan mereka kesempatan untuk berpikir tentang bagaimana mereka dapat menemukan jalan masuk ke sesuatu yang jauh.

Saya mengambil sikap pribadi sebagai warga dunia. Kita perlu pendukung internasional untuk mendedikasikan diri untuk ini. Indonesia menginvasi wilayah tersebut pada tahun 1962, dan pada tahun 1969 memerintahkan Papua Barat-sebagian besar di bawah todongan senjata-untuk memilih integrasi dengan Indonesi,dikutip leaderpost.com.
Papua Barat adalah sebuah provinsi yang meliputi setengah bagian barat New Guinea, pulau terbesar kedua di dunia, yang terletak beberapa ratus kilometer sebelah utara Australia."Saya pribadi berjuang dengan melibatkan diri untuk masalah ini sepanjang waktu. Cerita ini harus diberitahu, dan akan Ini arti bahwa kita bisa melakukan sesuatu bersama-sama karena kita adalah satu, manusia, kata Bally dikutip freeinews.com.

Siapa Jeremy Bally? Jeremy Bally lahir dan dibesarkan di pantai barat Kanada. Ia seorang pengendara sepeda dan musisi. Bally pertama kali mendengar tentang Papua Barat melalui seorang teman yang peduli. Lebih dari dua tahun ia terlibat  dengan masalah ini.

Lalu, visi untuk Pedalling untuk Papua mulai terbentuk. Pada tahun 2011, ia terbang ke Indonesia untuk melihat langsung apa situasi di lapangan, Papua Barat. Ia melakukan wawancara dengan banyak orang selama  periode minggu 5. Lalu,  ia tiba kembali di rumah dan mulai persiapan untuk kampanye pertama.
Pengalamannya di Papua Barat ia kemas dalam presentasi multimedia, dan bersepeda itu 7500 kilometer di Kanada. Ia mendidik ribuan warga Kanada tentang hak asasi manusia, lingkungan dan situasi politik di Papua Barat. 

Diketahui, kampanye tentang kondisi Papua dilakukan Koordinator Diplomasi Internasional Papua Barat, Benny Wenda  belum lama ini bebarapa Negara. Dalam perjalanan "Freedom Tour" ini, Benny Wenda ditemani Pengacara HAM Internasional, Jennifer Robinson dan penasihat hukum Julian Assange.

baca

23 Jan 2016

Dari Bandung Lihat Papua..!!

“bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum”begitu dikatakan  M.A.W Brouwer,menggambarkan indahnya bumi pasundan, jika dilihat kenyataan sekarang, perkataan seoarang psikolog dan budayawan negara Belanda ini melukiskan kehidupan orang sunda (dari dulu hingga sekarang) tidak berubah, seakan kalimat diatas mengikat hidup mereka, buktinya, kalau kamu ke bandung, kamu tidak akan lihat, tangisan anak negeri, kamu juga tak lihat keluh kesah rakyat.
mereka saling asah (Agar menjadi terampil), Asuh (mendidik dan melatih) supaya dapat beridiri sendiri dan Asih (kasih dan sayang) antara sesama orang sunda “bandung bermatabat, julukan kota bandung ini, jarang ada masalah, kriminal, kemacetan pendidikan, gisi buruk, kalaupun ada masalah,pemerintah biasa tangani secepatnya,tidak salah jika negeri ini, dikatakan “bumi pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum, artinya lingkungan yang bersih dan situasi yang aman, julukan diatas mencerminkan kehidupan yang orang bandung yang tidak terlepas dari tatanan budaya.


Suku lain datang cari kerja atau mahasiswa yang datang kuliah, silakan datang namun satu hal yang orang sunda tidak mau yaitu “ tidak boleh melakukan kegiatan yang meresahkan warga,misalnya: bikin kacau, konsumsi miras atau peredaran obat terlarang, sudah jelas mereka akan bersatu dan usir anda” soal ini sudah diatur dalam peraturan daerah pemerintah kota bandung juara ini,  budaya sundah sangat kental, itu sebabnya “rakyat kuat, pemerintah tertib dan daerah maju” bahkan budaya sunda jadikan satu mata pelajaran taingkat SD,SMP dan SMU dan kuriklumnya menjadi satu mata kuliah setiap perguruan tinggi ( swasta dan negeri) yang ada di kota kembang ini.


Setiap ujian semester ,semua pelajar dan mahasiswa diwajibkan mengenakan “batik sunda” kalu tidak turuti aturan yang ditetapkan, maka tidak ikutkan ujian atau nilai dianggap error, hal tersebut saya pernah alami, saat itu ujian mata kuliah“ ilmu budaya sunda” mau kerjakan soal ujian, saya diminta tinggalkan ruangan, katanya saya tidak mengenakan batik sunda, baku tawar dengan panitia, tidak bisa, katanya ini aturan, terpaksa pulang tidak ke rumah kost,  saya  langsung ke pasar, beli baju batik sunda di pasar baru di kota bandung.
 
selain kental budaynya, bahasa sunda lebih menonjol dibandingkan bahasa indonesia, tiap hari bahasa sunda melulu, mereka tidak terpengaruh dengan bahasa daerah melayu yang adopsi jadi bahasa nasional, mereka justru dirikan koran harian sunda (berita disajikan dalam bahasa sunda) dan Tv sunda (siaran dalam bahasa sunda) bahkan pembahasan Apbd tahunan juga dalam bahasa sunda.
 
lima tahuan yang lalu, dari papua menginjakan kaki dikota bandung, saya melihat perbedaan antara negeri Sunda dan negeri cendrawasih, kalau di bandung sunyi, sunyi dari masalah sosial,pendidikan, kesehatan dan masalah kriminal,bagimaa dengan papua..? di papua, tidak pernah sunyi dari berbagai persoalan diatas, negeri yang di juluki surga kecil yang jatuh ke bumi ini, suasana surga tidak terasa dalam kehidupan manusia papua, NEGERInya dirusak, wajah SURGAnya semakin pudar, tanah PAPUAnya, dijajah oleh negara Indonesia kaki tangan Amerika ini.


upaya anak negeri keluar dari cengkraman selalu kandas, mereka digiring dengan sepatu laras panjang,protes atas pemberlakuan tidak manusiawi, diperhadapkan dengan popor senjata, membabibuta rakyat, air mata dan tetesan darah mendekam jiwa anak bangsa juga selalu dibodohki (tidak mampu, tidak sekolah) dan disebut primitif ( berkoteka, tertinggal) belum lagi orang papua perlakuan kasar (tembak mati) cara halus (penyakit dan virus) masih gencar dibuat oleh militer atas nama negara indonesia juga menciptakan konflik antara warga dan hancurkan tatanan budaya.


ini telah menjadi luka batin bagi orang papua yang sulit disembuhkan, adakah obatnya..?dimana obatnya..? obatnya ada sama orang amerika..? orang belanda..? orang indonesia..? atau sama papua sendiri..? Entalah, yang jelas inilah kenyataan yang sedang dialami orang papua dari dulu, sekarang kedepan akan bagimana..?


jika dibandingkan dengan situasi bandung, bisa dikatakan tidak terlalu persoalan besar, aman dan terkendali, tapi bedah dengan keadaan papua dari semua segi, papua sedang menuju babak kehancuran, dalam situasi ini kita dituntut untuk berjuang atau diam terima kenyataan buruk yang sedang mengancam eksistensi kita.
 
semoga..!! papua juga sama dengan bandung yang aman dan nyaman dari persoalan yang merusak tatanan kehidupan masyarakat, saya telah melihat dan rasakan kenyataan ini,menjadi bahan yang akan di bicarakan dengan dengan pemuda, mahasiswa dan akar rumput yang ada disana, sa akan pergi dan tinggalkan negeri ini, tak mungkin lupa, kota bandung, orang sunda, tak lupa juga kampus tercintah "universitas pasundan"bandung, Jawa barat.

Penulis MethuCs Badii
baca

26 Nov 2015

Uang.!! Hasil Jualan untuk Anak yang Kuliah di Jawa

Ditengah teriknya  mata hari  yang tidak memanjakan, dibawah payung berwarna biru dan merah, seorang mama yang mengenakan pakian bertulisan “aku papua”  duduk santai menantikan barang jualannya berlaku, disaat pembeli  mulai ramai, dia sibuk melayaninya namun ketika pembeli mulai sunyi, mama ini  terlihat tadah panas dan menepis keringat diwajahnya.

Mama tua ini, bernama lengap Martina, merupakan ibu dari lima anak, hasil pernikahan dengan suami yang bernama Yulius, dia sudah lama berkecimpun dalam dunia usaha kecil-kecilan “ saya sudah 12 tahun menjual barang ini ( pinang, rokok, biscuit dan  agua dingin serta barang ringan lainnya).katanya sambil tersenyum,


tempat yang digunakan Martina, menjual barang seperti yang disebutkan diatas,  memang bukan pasar umum,   namun di halaman bandara udara, dia memanfaatkan satu tempat di sebelah kanan pintu masuk  bandara udara, bandara udara  yang melayani penerbangan  ke pedalaman papua   seperti  (Ilaga, Puncak Jaya, Paniai dan Nabire), tiap hari  orang datang  dan pergi dari bandara ini, namun pendapatan dari  hasil jualan tergantung keramaian penumpang, katanya.


pendapatan tiap hari, kata mama itu, kalau penumpang ramai, barang  jualan selalu  dibeli habis, rata-rata dapat 500 ribuh, bedah dengan penghasilan pada bulan Desember,  biasanya  1juta lebih yang dapat, karena orang ramai bepergian ke kampung ikut Natalan,

kegiatan rutin Martina sebagai penjual barang Snack, tidak berjalan mulus, petugas bandara udara justru  larang martina dan rekan lain jual barang di area airport, walaupun beberapa kali dilarang, martina selalu bersi keras menolak dan tetap melakukan aktifitas seperti biasanya, kata martina bandara ini belum buat, saya mulai jualan barang disini, kenapa mereka larang lagi.

Enak saja, mereka  larang saya , saya justru minta satu tempat di area bandara, saya sudah ajukan proposal ke pemerintah minta buatkan pondok tempat berjualan disini, lanjut Martina  saya jual barang diluar pagar, kenapa mereka ijinkan ibu orang makassar jual barangnya dalam ruang tunggu, kata  Martina berkisah adu mulut dengan petugas bandara udara.

kalau petugas bandara larang  jual barang snack,  kata Martina silakan carikan  tempat kerja untuk suami saya yang masih nganggur puluhan tahun, kalau tidak cari lowongan kerja, biarkan saya mencari duit menghidupi keluargku  dan  membiayai anak pertama  yang sedang kuliah di Yogja, jawah Tengah. Tutur Martina yang juga lahir besar di wamena ini.

tempat mencari nakfkah yang terancam,  kata Martina bagimana menghidupi keluarganya ditengah kota emas yang harga barangnya naik daun tiap tahun tanpa ada kontrol dari pemerintah daerah, dan juga bagiamana dengan biaya kuliah anaknya di jawa yang mengharapkan kiriman orang tua tiap bulan, Martina kwatir jangan sampai terjadi seperti  saya dulu di jayapura, putus kuliah karena trada biaya, kata perempuan yang kental dengan dialek bahasa wamena ini.

Kalau hanya menghidupi keluarga, saya bisa buat kebun di lahan, tapi biaya kuliah anaknya di jawa,  menjadi beban pikiran, terpaksa saya harus mengorbankan waktu dan  tenaga hanya untuk mencari uang, tutur Martina saat wawancarai di bandara udara kelas internasional ini.

dia habiskan waktu bukan dengan Keluarga dirumah, namun korbankan waktu demi mencari uang, pagi  keluar rumah, masuk malam di rumah, menjadi kebiasan harian mama itu“dengan barang jualan setiap pagi mama Martina harus menuju ke bandara udara,  Mas Asal Jawa menjadi langganan antar pulang dan pergi tiap hari,

 tidak merasa capeh dan lelah, Ibu Martina justru semangat menjaga barang jualan yang diletakan diatas plastik putih ditempat yang tidak jauh dari pintu masuk bandara udara itu “jual barang ini, saya biasa habiskan 8 jam, mulai jam 7 pagi, pulang jam 3 sore,

“pulang dari tempat jualan tidak langsung ke rumah, saya haru pergi ke pasar, belanja barang untuk kebutuhan jualan untuk besok harinya” kata Ibu Itu dengan nada santai.

 kegiatan jualan bisanya selama lima hari,  mulai dari hari senin sampai hari jumat, sedangkan hari sabtu dan Minggu digunakan untuk istirahat bersama keluarga di rumah “ kesetian menjual barang  snack, banyak pihak akui mama ini, orang yang sedang menunggu pesawat mau berangkat ke kampung dan juga orang yang sedang menunggu keluarganya datang dari kampung  ” mereka mengaku mama yang jual barang snack ini, sangat membantu ketika lapar dan  haus, tidak harus pergi beli ke pasar yang cukup jauh, kalau naik ojek harus keluarkan 20 ribuh rupiah pulang dan pergi,

Suatu ketika pulang dari tempat jualan, sampai di rumah  mama itu hitung uang,  hasil jualan yang dapat hari itu, dia mulai keluarkan 20 ribuh, 10 ribuh, 5 ribuuh dari tasnya, uang yang penuh dengan geta petatas ini, sambil  rapihkan, dia ambil sebuah kertas dan penah diatas lemari, mulai menulis diatas kertas bergaris itu, “UANG HASIL JUALAN, UNTUK ANAK YANG KULIAH DI JAWA”

Setelah menulis kalimat diatas, kemudian letakan ditengah uang yang dikumpulkan, selanjutnya keluarkan HP samsung dari nokenya, dia mulai momotret, hasil potretnya, Mama Martina mulai upload di facebooknya,

Foto tersebut, menuai banyak komentar dan bagikan  lewat media sosial (facebook dan twitter), ramai perbincangkan mengenai bagimana kesetian mama ini mengorbankan waktu dan tenaga hanya untuk mencari uang demi menafkahi keluarganya dan terutama  membiayai anaknya yang kuliah di Jawa dengan mengandalkan hasil jualan”mama itu pahlawan, tra gampang ”

Penulis : MethuCs Alias Methu Badii
baca

12 Nov 2015

Koteka Dinilai“Pornografi” Farah Protes


seorang selebritis Indonesia, Farah Quinn,  upload poto dia bersama orang papua yang mengenakan koteka, Foto yang diupload dalam forum facebook menuai ribuan komentar dari fansnya, 
pake koteka tanpa baju kita jangan kita anggap itu pornografi, karena mereka melestarikan budaya,orang papua saudara kita juga, jangan berpikiran miring, komentar Suciyanti,

kenapa kalian pikiran kotor terhadap budaya papua, mereka memelihara budayanya, coba berkaca diri, kalian mengenakan rok mini dan celana hot tempat terbuka, sendiri mengadopsi budaya barat baru, komentar warga  bernama Shasa Basyir

dulu di jawa budaya dan adat istiadat kami hancur, karena memaksakan keyakinan kalian dan tidak bisa menerima perbedaan yang wariskan nenek moyang, makanya kami kembali ke bali melestarikan budaya dan sekarang bali dikenal oleh dunia,komentar diah dalam foto tersebut,

waktu sekolah kami diajari budaya jawa dan bali serta sumatra sampai kalimantan, aneh kalau kalian tidak mengenal budaya papua, kami sudah tahu pakaian adat dan rumah adat kalian, lalu berpikiran negatif terhadap budaya dari suku-suku lain di indonesia, tutur, Hery Sroyer,warga papua, 

Kami suku-suku papua, mau mengatakan kepada kalian yang berpikiran negative, kami menghargai kebragamana budaya indonesia yang berbeda antara suku dan bangsa, tapi ternyata anda sendiri yang primitifff…!! hitam kukit, kriting rambuat, aku tetap papua.,,,trus koe mau apa..?? tra suka…terserah ya..eps k.?komentar grace,warga papua lagi,

Orang indonesia kebanyakan membawah nama agama untuk menutupi kelakuan kotornya, berkoteka itu budaya orang papua, tapi  dianggap pornografi, bisa bedakan budaya dan porografi.?? katanya  bhine Tunggal Ika tapi saling ejek antar budaya, masih ada,  makanya indonesia tidak maju-maju, kata Claudia yang ngaku dari warga malaysia

aku lahir di papua, berdarah jawa, nama Papua akan selamanya ada di akte kelahiranku, jiwa saya tetap bersama Papua. dan bangga pernah hidup di Papua dan melihat langsung kehidupan di sana dan berinteraksi dengan saudara-suadara di Papua. Saya bangga dengan alam Papua dan saya menghormati cara hidup dan tradisi orang Papua,komentar Sri Partiyem

Mba, Farah Quinn poto bersama orang papua dengan kondisi budaya mereka disana, mari posisikan diri kita, berpikir posisitiv dengan kebradaan kita masing-masing, jangan kita saling menghakimi dengan pikiran kotor, dimana moralitas orang indonesia.? Kata Sugeng Junior.

Berikut   Farah Quinn Menanggapi, semua Komentar dalam fotonya, kecewa dan sangat marah atas komplain dan tudingan miring atas poto saya dan orang papua yang di upload dalam forum facebook,

saya upload poto, bukan supaya di rendahkan budaya papua tapi menurut Farah, lebih pada promosi keunikan budaya leluhur orang papua yang masih dipertahankan hingga zaman modern seperti saat ini,kata Farah Quinn Asal palembang berkelahiran 8 April 1980 itu.

banggsa dengan budaya orang papua yang unik dan menarik, aku menunjukan dan promosikan kepada siapa saja,kapan saja dan dimana saja,kata Farah Quinn yang juga kuliner Ala Chef di TransTV itu,

orang yang bepandangan miring  terhadap foto saya, mereka adalah orang yang pikirannya sangat miskin dan dangkal, lanjut farah budaya orang papua itu  unik dan menarik para tourisme, tapi kesal tuduhan orang yang  dianggap pornografi, kata Farah Quinn, alumni University Of Pennsylvania, Amerika Serikat ini,

 Saya minta teman-teman membuka pandangan buruknya terhadap poto yang saya posting, hentikan justifikasi budaya papua dengan pikiran dangkal, ungkap Farah Quinn komentar miring diatas,

Saya harapkan teman-teman bisa rubah pola berpikir dengan cara travelling sebanyak mungkin, bukaanya kita habiskan duit semata tetapi ilmu dan inspirasi yang kita dapatkan  bias memperkaya dan merubah cara pandang kita dalam melihat dan menghakimi sesuatu pandangan lebih positive,katanya Farah lagi

Pada 15 maret 2014, Farah Quinn hadir pada acara yang digelar di dijayapura, dalam kesempatan itu, Farah Quinn mengaku  datang ke papua seperti luar negeri, bangga sekalai ke papua,kata Farah Quinn saat itu.

 Penulis MethuCs
baca