Tampilkan postingan dengan label MethuCs. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MethuCs. Tampilkan semua postingan

26 Des 2017

Koyeidaba ketemu wodeyokaipouga di Debei


Oleh Methu CS Badii
Dalam buku Wodeyokaipouga Bobii, Nabi yang terlupahkan, satu bagiannya dijelaskan mengenai pertemuan “koyeidaba dengan wodeyokaipouga” di tadauto, debei, tigi barat, Deiyai, pertemuan antara wodeyokai pougabobii dan koyeidaba terjadi awalnya koyeidaba dikejar dari daerah kamuu karena diancam bunuh,  koyeidaba menurut cerita rakyat (Mite)  suku Mee yaitu Yesus : Juru selamat manusia atau Mesias.

Koyeidaba diancam untuk dibunuh karena dianggap peredam makanan, harta dan ternak, merampas, penghilangkan kekayaan suku Mee, karena pada saat itu di daerah makewapa, Dogiyai sedang terjadi krisis kelaparan, sehingga masyarakat setempat sepakat untuk disingkirkannya.

Mereka mulai kejar dari daerah kamu, masuk wilayah  tigi barat, perjalanan panjang tidak sempat di tangkap, mereka trus kejar sampai didaerah Debei, dari sini terjadi perdebatan, apakah koyeidaba dibunuh atau tidak namun semua sepakat, tapi hanya "Wodeyokai pougabobii dan 12 Orang pengikutnya” yang sembunyikan koyeidaba di Goa (biyodoba) di kampong Tadauto, wilah Debei, Distrik Tigi Barat.

(Wode Yokaipouga adalah pengajar  tota mana yang selanjutnya disebut Nabi, dia mempunyai 12 murid, mereka jalankan masing-masing tugas, ada yang tugas untuk urusan (makan bersama dan minum bersama), ada yang tugas untuk  urusan doa  bersama  dan ada juga tugas jalan kegiatan sosial, yang lain juga mendapat tugas sesuai dengan tanggung jawab yang dibebankan oleh Wode Yokaipouga, melihat ajaran wodeyokaipoga tersebar, banyak masyarakat disekitarnya tidak senang kegiatan yang dilakukan wodeyokaipouga  dinilai negative ajaran “tota mana atau touye mana” yang diajarkan oleh Wodeyokai pougabobii, masyarakat sekitarnya sering datang menyerang wodeyokai pougabobii dan pengikutnya, namun mereka tidak berhasil, mereka datang menyerang tapi kembali dari pertengahn jalan, datang menyerang namun  redahkan niat mereka dengan kebaikan wodeyokaipouga dengan cara sediakan  makanan (yapei mee nota oyou/onai).

 dalam situasi wodeyokaipouga dan pengikutnya, sedang hadapi ancaman dari orang lain atau masyarakat kampung lain, muncul kabar bahwa koyeidaba sedang dikejar dari kamu, masuk wilayah tigi, masuk di daerah debei, wodeyokaipouga dan pengikutnya sepakat untuk lindungi atau sembunyikan koyeidaba, setelah masuk di daerah debey, tepatnya di kampung digibagata, mereka mulai berdebat soal koyeidaba, sementara berdebat diam-diam wodeyokai pougabobii dan pengikutnya sembuyikan koyeidaba digoa (biyo doba) di kampong Tadauto, setelah sembuyikan didalam goa (biyodoba), wodeyokai pougabobii dan pengikutnya pura-pura kejar seseorang dari tadauto ke arah ataidimi supaya orang pikir koyeidaba sudah lewat dan masuk ke wilayah botumoma, puweta didaerah kamu. 

selanjutnya hari pertama wodeyokaipouga dan pengikutnya kasih makanan ke goa koyeidaba menyampaikan bebarapa hal kepada wodeyokaipouga, namun hal tersebut  masih dirahasiakan sampai sekarang, setelah  itu kunjungan kedua koyeidaba berjanji, saya tidak akan ada disini, saya akan pergi jadi saya akan simpan saya punya "hati" jadi kalian datang ambil (aniya kegepa nipo kiya makitoupigaka motigou).

setelah beberapa hari kemudian, mereka datang ke Goa (biyopa) untuk cek janji tersebut, namun di goa tersebut koyeidaba tidak ada, hati (kegepa) yang dijanji  untuk ambil juga tidak ada, wodeyokaipogabobii dan pengikutnya mulai cari di sekitar goa, mereka hanya temukan ceceran darah (emo tagi) disekitar goa, dan rumput disekitar goa tampak basa (habis kencing).  

sudah cari sekitar goa dan janji untuk  ambil hati (kegepa nipo) itu, namun mereka tidak dapat, tampak baru saja ada orang lain ambil duluan lalu pergi, Wodeyokai pougabobii  dan pengikutnya ikut bekas kaki perempuan yang sedang bawa pergi hati (kegepa) tersebut, dipertengahan jalan mereka tahan dia, mereka mulai nuntut  hati (kegepa) yang dia bawah pergi untuk segera kembalikan, hati (kegepa) tersebut  koyeidaba janji ke kami, jadi segera kembalikan ke kami, namun perempuan tersebut  mengaku tidak ambil, dari sana kami ada kejar darah buntut sampai mama jadi mohon kembalikan, namun perempuan tesebut ngaku darah tersebut sedang mens atau haid, tapi  karena Wodeyokai pougabobii dan pengikutnya bersih keras,  perempuan tersebut mulai jujur "benar hati (kegepa) ini kalian punya, koyeidaba janji buat kalian, saya cuma pegang saja, nanti ada saatnya saya akan kasih dan saya akan kasih keluarkan ditengah orang banyak.

setelah perempuan itu, mengaku bahwa dia yang ambil, dan dia hanya pegang sementara, wodeyokaipouga dan ke12 pengikutnya biarkan dia bawa pergi, ceceran darah yang ditemukan tidak jauh dari goa,  sekarang tumbuh sayur hitam (digiyo napo), orang biasa petik banyak tapi  tidak pernah habis dan justru bertambah dan berkembang,  rumput yang ditemukan basa, sekarang terbentuk jadi kali kecil, warga sekitarnya beri nama kali kecil itu"woo waino" atau air mengalir keatas atau mengalir berputar, air tersebut jernih tidak pernah kering, orang sakit kalau  minum air tersebut, menurut cerita biasanya sakit sembuh,Terlepas dari itu, setelah Wodeyokai pougabobii meninggal dunia diperkirakan pada tahun 1920an, ajaran totamana diteruskan oleh gererasi selanjutnya, hingga saat ini generasi ke 7 (tujuh) masih pertahankan ajaran tota mana,sudah ditetapkan tanggal 9 Mei  sebagai Hut Totamana  biasa diperingati tiap tahun.(*). 

Penulis adalah mantan Wartawan Media Online dan Majalah, Tinggal di Bandung.
baca

21 Des 2017

Martalina Mau "Kuliah" tidak mau "Pacar"


Oleh: Methu Badii
“hanya untuk Martalina jadi pacarnya, lelaki itu harus masuk SMA kembali, pada hal sudah selesai kuliah, bagi martalina, soal pacar tidak penting, dia lebih pentingkan kuliahnya, tapi lelaki ini tidak mau Martalina jadi pacar lelaki lain, dia kejar Martalina, tapi semua upaya dan usaha yang dia lakukan, dianggap itu hanya demi persahabatan.

tapi trapapa bagi dia meski sebatas sahabat”suatu saat lelaki itu ajak Martalina jalan ke taman “baku dapa” disini dia sampaikan keiiginannya, sebenarnya saya, ajak kamu disini, saya mau sampaikan, bahwa saya tidak sekedar sahabat, lebih dari itu saya cintah Martalina,sementara lelaki itu ngomong, Martalina buang muka ke arah lain, tidak, saya tidak mau, cukup kita bersahabat saja, untuk apa pacar.? coba pikir mana yang penting, kuliah atau pacar, bagi saya kuliah lebih penting dari pacar, kita datang dari papua, datang untuk apa.? kalau untuk kuliah..kuliah saja lah, kata Martalina.

kita datang dari papua ke jawa memang untuk kuliah,soal itu Martalina benar, tapi menurut saya, selain kuliah pacar juga penting, yang terpenting tidak saling memutuskan kuliah, jadi saya mau dari sini, tempat ini, ditamam ”baku dapa” ini, kita harus rubah status sahabat jadi pacar. Tutur lelali mendesaknya,

dengar lelaki itu bicara, Martalina pelan2 balik muka ke arah lelaki itu, dia mulai ajukan pertanyaan, saya bersediah rubah status sahabat jadi pacar, tapi maukah tidak.? nanti selesai kuliah, kamu masuk SMA kembali, lelaki itu tadiam, tadiam dengan tuntutannya. hal semacam ini, jarang ada dalam dunia pacaran tapi demi Martalina jadi pacarku, trapapa saya siap terima resiko, setelah selesai kuliah siap masuk SMA kembali.

Sejam duduk diatas kursi besi, sebela kanan taman "baku dapa" disekitar kota metropolitan, berdua masih disini, masih berbincang tentang status sahabat dan pacar, Martalina, perempuan asal perbatasan Papua dan Png itu, masih belum terima sebagai pacar, dia masih pertahankan sebagai sahabat ”kalau saya terima sebagai pacar, bagimana dengan kuliah, kuliah sambil pacar bagus tapi kalau kuliah terganggu dan putus kuliah bagimana dengan cita-cita ku yang mau buka usaha bisa gagal ini, pikir Martalina.

Asyik ngobrol berduan di taman itu, cuek dengan orang yang lewat disekitarnya, sambil menikmati the pucuk dingin, tapi the pucuk tersebut, tidak menyegarkan perasan lelaki yang ingin rubah status dari sahabat jadi pacar ini, sikap saya sebenarnya tidak seperti yang anda bayangkan, Martalina, saya minta pacar sebenarnya bukan berarti saya mau putus kuliah dan gagalkan cita2nya,saya hanya minta perjelas status persahabatan jadi pacaran, tutur lelaki asal wadou ini.

Kita masih kuliah, orang tua harapkan, kita selesai kuliah cepat, lebih baik kita sahabat saja, untuk pacar nanti, kita fokus kuliah dan jalani kalau baku cocok ya, kalau tidak ya apa boleh buat, kata Martalina, memutuskannya.

lelaki tersebut menerima pendirian Martalina, dua tahun lebih, berdua jalani hubungan, saling sms, telp dan sering jalan barengan, orang lain kirain dorang dua pacaran, pada hal tidak,berdua masih berstatus sahabat.“jangan panggil saya cayang, cintah, saya benci dengan kata2 ini, kita ini bukan anak kecil lagi, kita sudah mau selesai kuliah, itu sudah dewasa, kata martalina dalam Smsnya, ok baik sahabat, saya tra akan panggil cyang lagi, mungkin ini trakhir kali dan persahabatan kita juga cukup sampai disini, balas dengan kecewa.

lelaki tersebut mulai cuek dengan Martalina, telp tra terima, sms tra blas, begitu trus berjalan beberapa bulan, suatu ketika Martalina datang, datang dengan menangis dan mintaa maaf, larang panggil cyang, cintah dan maaf juga soal syarat jadi pacarnya, sebenarnya saya lakukan hanya untuk memastikan bahwa hubungan kita ini serius atau tidak, jadi mulai sekarang panggil saya, cayang, cintah, tutur Martalina pasranya.

Usai Martalina minta maaf, lelaki tersebut tidak bicara banyak, dia langsung pukul, beberapa kali sepak dia, Martalina tidak bateriak,tidak lari tinggalkan, dia justru memeluknya, lelaki juga mulai merangkulnya, Martalina Cyang, saya memang tidak punya siapa2, dalam hati saya cuma Martalina, itu sebabnya, saya mempertahankan maralina dan memenuhi permintaan, walaupun sebatas sahabat, bagimana tidak, hanya untuk martalina, saya mengenakan celana panjang abu2, selana SMA pasundan 5 Bandung.

semuanya terpaksa saya lakukan hanya karena sebuah rasa, rasa cintah dan cayang yang mendalam untuk Martalina jadi pacarku, lebih dari itu, Marlina jadi kekasihku, itu sebabnya bertahun-tahun saya pertahankan Martalina,tapi sayangnya, kisah manis,pahit dan sahabat & pacar yang bedua lalui beberapa tahun di tanah rantauan berlalu dalam sekejab karena orang tua Martalina tidak restu untuk bersatu, terpaksa, Martalina lari ke kota jerman (jeruk manis), lelakinya lari kota eropa (enaro paniai) (*)
baca

17 Sep 2017

Pilkada Papua 2018 “Enembe Vs Wetipo” rameh.?

 Oleh : Methu Cs Badii,
Pemilihan Kepala Daerah di Indonesia biasanya gelar lima tahun sekali lewat pesta demokrasi secara serentak tiap kabupaten dan provinsi untuk memilih orang nomor satu di wilayah tersebut, Calon Bupati dan Gubernur Provinsi Papua, harus Putra Daerah Papua sesuai amanat Undang-Undang Otonomi Khusus Tahun 2001. Pemberian Otsus bukan tindakan belas kasihan Pemerintah Pusat, namun jalan alternatif yang diambil akibat meningkatnya tuntutan untuk memisahkan diri.

Tuntutan rakyat Papua untuk lepas dari NKRI di respon dengan pemberian Otonomi Khusus. Namun, paket Otsus tersebut dinilai bukan jawaban atas tuntutan, pada tahun 2007 melalui Forum Demokrasi Rakyat Besatu (FORDEM) dengan tegas menyatakan “Otsus gagal total” dan rakyat Papua sepakat untuk kembalikan ke jakarta lantaran pasal perdasi dan perdasus yang memuat hak-hak dasar seperti “bendera bintang kejora, lagu kebangsaan, lambang negara” tidak sahkan oleh Pemerintah Pusat dalam Otsus tersebut.

Tantangan Bupati dan Gubernur di Papua adalah merealisasikan tuntutan rakyat dan merealisasikan kepentingan negara di daerah konflik yang sering timbul dan tenggelam dalam waktu yang tidak menentu di warnai dengan saling tembak antara TPN/OPM dan TNI/POLRI di Tingginanbut, Puncak Jaya, Eduda - Paniai Papua, itu sebabnya negara melalui Jendranyal biasa curigai Cabub dan Cagub yang merupakan Orang Asli Papua,  setelah terpilih jadi bupati atau gubernur bisa biayai gerakan separatis dan bisa pengaruhi masyarakat untuk menentang Negara atas ketidak adilan yang dilakukan oleh Aparat Keamanan.

partai politik buat sebuah strategy untuk menghalau keinginan rakyat Papua dengan mendorong Cabub dan Cagub tertentu, dengan harapan lakukan antisipasi munculnya kelompok atau faksi yang dapat menghambat pembangunan di wilayah, hal tersebut pernah dilakukan seorang elit poltik local di paniai, beliau kucurkan milyaran rupiah kepada aparat keamanan (brimob dan Phaskas) untuk bongkar markas TPN/OPM di Eduda - Paniai, dan berhasil cerai beraikan, lain tersebar di daerah Paniai, lain lari ke Nabire, ditangkap dan dipenjarakan bahkan ditembak mati.

sama hal dilakukan seorang elit politik di Puncakjaya, dia kerja sama Aparat Keamanan kejar TPN dan OPM yang bergerilya di Tingginambut, namun tidak berhasil hentikan pergerakannya, masyarakat sipil disekitarnya Justru dipaksa untuk mengaku sebagai anggota TPN dan OPM dan mengenakan atribut merah putih lalu foto bareng sebagai bukti dan sebagai bahan pemberitaan media local dan nasional untuk menipu rakyat Indonesia.tindakan kedua elit politik ini, satu segi terpaksa harus lakukan karena tugas negara, tapi segi lain tidak pantas karena TPN/OPM juga rakyatnya, seharusnya kedua elit ini, gunakan cara persuasif , tidak harus jalankan operasi, tapi karena diancam oleh aparat, kedua elit politik tersebut, akomodir permintaan proyek “Tujuh Belasan” dan proyek “turun gunung.” 

Tanpa pertimbangan, dana dengan jumlah besar dikucurkan kepada aparat keamanan untuk tangani proyek pembrantasan Tpn/Opm, dana milyaran tersebut seharusnya gunakan untuk berdayakan masyarakat local untuk kembangkan usaha kecil. Tidak hanya kedua elit politik diatas, Bupati Jayawijaya Wempi Wetipo juga lakukan hal yang sama, dimana beliau hadirkan Mako Brimob. Pada hal kehadiran Mako Berimob tersebut, sangat mengganggu kenyamanan masyarakat Wamena. walaupun masyarakat setempat dan berbagai pihak menolak, namun demi kepentingan Calon Gubernur Papua, terpaksa harus buka Mako Brimob di daerah tersebut.

Kehadiran Mako Brimob di Wamena, terkesan nilai tawar kepada Negara melalui partai politik agar pace Wempi Wetipo di dorong untuk Calon Gubernur Papua, bersaing dengan pace Lukas Enembe yang di idolakan oleh masyarakat Papua untuk bertarung pada pesta demokrasi tahun 2018, dua partai besar becking kedua Cagub, Partai PDIP mendukung Wempi Wetipo, sedangkan Partai Demokrat mendukung pace Enembe, Siapa yang akan menang, apakah SBY (Enembe) atau Megawati (Wetipo) atau Cagub lain, belum bisa pastikan, tapi kenyataan yang terjadi, mayoritas rakyat Papua, dukungan kuat untuk Pace Enembe, sementara pendukung untuk Pace Wetipo masih lemah.

Oleh karena itu, elit politik pusat melalui partainya sedang berupaya jatuhkan Pace Enembe dengan kasus dugaan korupsi “dana bea-siswa” agar pace Wetipo bisa lolos ikut kompetisi pesta demokrasi yang tahapannya akan bergulir pertengahan Bulan Oktober ini.Tindakan elit politik pusat tersebut, di nilai upaya untuk menghalangi langkah Pace Enembe yang digemari oleh rakyat Papua sebagai pemipmin merakyat yang di harapkan untuk lanjutkan jilid ke-2 ini.

Pendukung kedua Cagub terlihat mulai saling sindir ramai melalui mulut ke mulut maupun kicauan lewat media sosial, Pace Enembe boleh, biasa membela rakyat Papua jadi lanjut Jilid ke-2, ah jangan salah, Pace Wetipo juga tra kosong, dua Periode jadi Bupati Jayawiya, beliau bersih dari korupsi, jadi Pace Wetipo cocok jadi Gubernur Papua, Pace Enembe dan Pace Wetipo atau Cagub lain yang akan maju rebut kursi 01 Papua, semua adalah Putra Papua terbaik yang akan bartarung pesta demokrasi, mari kita ikuti tahapan yang akan berjalan. Dan jatuhkan pilihan anda kepada orang yang tepat. Jangan karena dipaksa atau terpaksa kita semua orang punya hak yang sama,hak untuk memilih, salam demokrasi (*)

Penulis adalah Mahasiswa Papua, Kuliah di Bandung
baca

29 Jun 2017

Nubuatan“Tigi Make Tigiya Titai”Bag 1

Oleh : Methu Cs Badii
Kehidupan suatu bangsa tidak keluar dari tatanan budaya, salah satunya yaitu cerita nubuatan atau perkataan pendahulu (orang tua) yang diturunkan secara lisan atau tertulis tentang sesuatu yang akan terjadi pada waktu mendatang, ratusan Suku di papua juga tidak terlepas dari nubuatan tersebut, salah satu nubuatan yang terkenal yaitu Perkataan Pdt Ishak Kijne tentang ”masa depan orang papua di negerinya sendiri”disampaikan secara tertulis yang masih belum terwujud.
nubuatang yang ditutunkan oleh pendahulu kepada  suku Mee   yaitu ”Tigi make tigiya titai” atau ”dari tigi akan dikumpulkan” perkataan pendahulu (orang tua) ini belakangan jadi perbincangan hangat ditengah masyarakat, banyak orang mulai prediksi nubuatan tersebut,  apa yang akan digenapi, Apakah soal Perubahan Tigi menjadi Deiyai .? atau penentuan nasip bangsa yang akan ditentukan dari Tigi .? atau cerita dalam Alkitab yang akan menjadi nyata di Tigi.? penulis akan  uraikan ketiga prediksi diatas, pertama Soal ”perubahan Tigi menjadi Deiyai” sebelumnya Tigi adalah satu Kecamatan di Kabupaten Paniai, tapi  adanya pemekaran,Tigi jadi Ibu Kota Kabupaten Deiyai, setelah disahkan mendagri Madiyanto pada tahun 2008.

Setelah Deiyai disahkan menjadi satu kabupaten di Provinsi papua dengan slogan ”Dou, Gai, Ekowai atau lihat,pikir dan kerja”  tidak tunggu lama, langsung ditempatkan Bupati sementara untuk menyiapkan Kabupaten Defenitif, Bupati Caretaker, Blasius Pakage dan Sekretaris Daerah (Sekda), Basilius Badii, buku “ Deiyai Dalam Proses Pembangunan bangsa” yang ditulis oleh Frans IGN Bobii dijadikan sebagai rujukan untuk canangkan rencana pembangunanan jangka pendek dan menengah serta meletakan dasar-dasar pemerintahan.

setelah hadirnya Bupati defenitif, Dance Takimai dan Wakil Bupati, Agus Pigome pada tahun 2012, mulai jalankan pembangunan infrastruktur yaitu jalan, jembatan, kantor dan rumah Dinas, Pasar dan Lapangan terbang (bandara internasional) serta pembangunan fisik lainnya, kedua pasangan (takimai-pigome) yang menang dengan proses demokrasi yang panjang ini, tidak tinggalkan diam, beliau dua tancap gas, bangun jalan raya keliling tigi dan jalan penghubung antar kampung menjadi prioritas, rata-rata semua kampung sudah terjangkau dan tinggal aspal sebagiannya sedang kerjakan.

sedangkan pembangunan jembatan, beberapa kali yang bermuara ke danau Tigi dan dari danau Tigi keluar yaitu kali Itoka di kampung Gakokebo, dan kali Oneibo, kali Okomo dan kali Aiya, Kali Diyai, kali Wakeitei dan kali kecil lainnya sudah pasang gorong-gorong sehingga tidak mudah dibawah arus air ketika banjir.

selain itu kantor Bupati dan kantor SKPD atau OPD serta rumah Dinas untuk PNS atau ASN sudah dibangun megah di Tigido dan sudah tempati oleh pegawai setempat, pasar umum sedang dibangun di Waghete 2 relokasi dari warghete 1, akan dirampungkan bebarapa waktu mendatang.  tidak hanya itu, pemerintah juga sudah bangun bandara udara internasional “wakeitei” saat ini bandara tersebut sedang operasikan untuk pelayanan penerbangangan dari Nabire dan dari Timika ke Deiyai dan sebaliknya, pemerintah juga rencana akan bangun terminal umum  atau pusat pembagian kendaraan yang akan lintas  beberapa kabupaten di meuwodide (dari Deiyai, ke Dogiyai dan Nabire, dari Deiyai, ke Paniai, Intan jaya dan ke Timika).

semuanya sedang dibangun dalam sekejab, Deiyai bedah dengan Intan jaya dan Dogiyai yang sama-sama mekarkan jadi Kabupaten, jangankan pembangunan tata pemerintah saja belum jelas, bedah juga dengan kabupaten induknya (paniai), pembangunannya berjalan di tempat pada hal Kabupaten tua alias peninggalan zaman belanda, dari waktu ke waktu wajah paniai belum berubah, .bantuan sosial saja jarang ada. untuk Deiyai, berbagai bantuan dijalankan, misalnya bantuan soralsel tenaga surya (1 rumah 1 soralsel) kepada masyarakat sudah pernah diberikan” jadi rumah masyarakat  Deiyai tampak kota besar pada malam dari Gunung Yukudei lihat ke bawah terang benderang sama seperti Argapura lihat ke Dok2 Jayapura.


untuk mengganti Soralsel yang dibantu tiga tahun silam, saat ini pemerintah tengah jalankan program ”Deiyai terang” secara bertahap melalui dinas terkait, mulai bangun PLN (perusahan listrik Negara) keliling tigi khusus dan Deiyai umumnya, jadi untuk kedepan kebutuhan masyarakat soal penerangan akan terpenuhi dan akses pelayanan pemerintah kepada masyarakat akan berjalan lancar, 

melihat dinamika pembangunan yang ada, Gubernur Papua, Lukas Enembe, menetapkan Kabupaten Deiyai sebagai “Kabupaten percontohan” salah satu dari lima kabupaten yang menerima penghargaan yaitu Supiori, Mappi, Lany Jaya  dan  kabupaten Keerom pada saat kunjungan kerja (kunker) di Deiyai pada tahun 2013, Pada saat itu.  Enembe mengatakan, walaupun kabupaten Deiyai merupakan Kabupaten kecil dan baru, tapi deiyai mempunyai orang-orang intelectual yang tinggi, sehingga berhasil membangun infrastruktur dan bidang lain, ini merupakan kebanggan saya karena orang hebat di papua paling banyak dari Deiyai jadi bangun deiyai dengan serius.

Setelah Deiyai ditetapkan sebagai satu kabupaten “percontohan” dari kabupaten lain di papua karena keberhasilan membangun aspek fisik, masyaralkat Deiyai, mulai  bertanya apakah itu wujud nyata dari  nubuatan tersebut, atau aspek lain yang akan terwujud di tigi. tulisan ini akan bersambung dari : Nubuatan “Tigi make tigiya Titia” bagian 1  perspektif pembangunan Deiyai  dan bagian 2  Penentuan Nasip Bangsa” 

Penulis adalah Aktivis dan Jurnalis Warga tinggal di Bandung.
baca

11 Jun 2017

Ketika "Gunung Kaitaka” di Bongkar

Oleh : Methu Cs Badii
Program pemerinta pusat untuk provinsi Papua yaitu  membuat ”jalan trans” tujuannya mengurangi kesenjangan antar wilayah, banyak jalan trans sedang buat di tujuh wilayah adat papua, salah satunya adalah  Jalan trans Timika  ke  Nabire, hingga tahun 2017 belum selesai, masih  dikerjaan dan tidak tahu kapan baru  tembus ke wilayah Meepago

Jalan tersebut sudah kerjakan dengan alat berat, sebagiannya sedang ratakan sebagian besar sudah Aspal, jalan dari arah timika dan dari deiyai belum ketemu, masih kandas di  gunung kaitaka, kaitaka adalah sebuah gunung yang melintang luas antara Kabupaten Mimika dan Kabupaten Deiyai dan Paniai.

diatas gunug ”kaitaka” pada malam hari sering  padam dan nyala lampu seperti  lampu”petromaks”  tampak dari tigi barat, dulu orang tua biasa katakan ”kouko mogopaka pito” artinya ”lampu dari tembagapura” pada hal  tidak, gunung tembagapura dan gunung kaitaka jaraknya jauh.

banyak orang berharap agar jalan  tersebut, cepat kerjakan atau cepat tembus, supaya  bisa melintas ke Deiyai, Paniai, Dogiyai dan ke Nabire dengan motor dan mobil pribadinya.

tapi sayangnya kontraktor yang kerjalan projek jalan itu, sulit tembus karena dihalangi oleh sesuatu dalam gunung tersebut, excavator milik kontraktor berusaha bongkar gunug ”kaitaka” tapi tidak mampu tembus, katanya harus ada dinamik untuk bom batu raksasa dan usir eniya (penunggu) yang jaga gunung tersebut.

dengan alat ”dinamik”pernah  boom tiga kali, namun tidak berhasil runtuhkan, katanya penunggu (eniya) yang jaga gunung lebih kuat dibandingkan kekuatan dinamik yang gempur batu raksasa itu.

Memang agak sulit tembus gunug tersebut, dengan alat berat milik kontraktor, berupaya kerjakan pelan-pelan, katanya sekarang tinggal sedikit lagi baru akan tembus, dan tersambung jalan antar kabupaten tersebut. 

kalau jalan sudah tersambung, tentu banyak orang merasa senang, karena selama ini, kalau mau  ke kampung  biasa  lewat pesawat, keluarkan biaya jutaan rupiah untuk uang tiket, berangkat juga tidak menentu karena harus menyesuaikan suaca.

tapi kalau jalan darat ongkosnya kurang dari ongkos pesawat,  karena kapan saja bisa berangkat tanpa ada pertimbangan suaca, jaraknya juga dekat kalau naik pesawat butuh 25 menit, tapi kalau jalan darat pake mobil diperkirakan paling lama 3 jam atau lebih, kalau dengan motor dua jam lebih bisa sampai di Deiyai, paniai dan pulang kembali ke Timika.

pulang dan pergi dari timika ke beberapa daerah di Meuwodide itu sudah pasti,  tapi bagimana dengan cerita nubuatan tentang “gunung kaitaka” yang diturunkan oleh pendahulu (orang tua) secara lisan kepada Suku Mee. 

“Kaitaka dimi kou kebaitaida makeko, enama peuma wiya” artinya  ketika gunung kaitaka di bongkar akan ada baik dan buruk” nubuatan tersebut belakangan ini, menjadi tren topik ditengah masyarakat Mee, setelah dengar bahwa jalan dari timika ke Deiyai sudah sampai di gunung kaitaka.

Kalau  gunung sudah bongkar  berarti,  kita suku Mee sudah siap sambut kabar  baik (ena mana) dan kabar buruk (Peu mana) menggenapi cerita nubuatan pendahulu tersebut, kabar baik  bagi mereka yang berbuat baik, dan kabar buruk bagi mereka yang berbuat buruk. tergantung perbuatan  kita selama ini.

 perbuatan baik akan mengantar kita ke pembebasan, tapi perbuatan buruk akan mencelakakan kita, kita sudah berada dalam situasi dimana harus terima penggenapan dari  nubuatan”Enama,Peuma wiya” setelah gunung kaitaka dibongkar.

Penulis adalah Aktivis dan Jurnalis Warga
baca

25 Mei 2017

JF Tiago,Persipura dan Papua

Oleh Methu Cs Badii
  JF Tiago mantan pelatih utama persipura Jayapura, pernah mengatakan “hatiku akan terpatri bersama persipura” tapi  sejak gabung dengan persipura tahun 2008 hingga tahun 2014  beliau hilang dari persipura.

Beberapa tahun latih tim mutiara hitam, JF Tiago hengkang dari persipura. baru tampak saat Barito putra Vs Sriwijaya Fc yang disiarkan Tvone pada liga1, Sabtu 13 Mei 2017.

tidak tahu baru muncul dari Dunia mana, Beliau terlihat sibuk atur drama kesebelasan Barito Putra,  pelatih yang akrab disapa “papy negro” tersebut, hilang  selama tiga tahun, apakah keluar negeri atau diam dalam negeri, masih menjadi pertanyaan persipura mania dan masyarakat papua.

ada yang katakan, beliau hilang dari persipura karena ditarik untuk latih salah tim nasional, ada yang bilang, beliau tinggalkan persipura karena adanya ancaman dari pihak lain. 

bukan tidak mungkin, dugaan ancaman tersebut bisa datang karena melalui taktik pelatih ini, pernah antar persipura beberapa kali juara kompetisi domestik hingga masuk perempat final AFC Cup.

dugaan pihak lain, pelatih yang kental bahasa Indonesia ini, hengkang dari persipura karena pergi latih salah satu tim yang berlaga di Danone Cup ketika itu, tapi katanya keputusan  tersebut tidak tepat pada saat persipura sedang jalani pertengahan kompetisi ISL.

Kedua dugaan tersebut, apakah benar atau tidak, sampai saat ini masih belum jelas, tapi menurut kabar angin, beliau mendapat ancaman dari pihak lain karena melalui pelatih asal brazil pihak lain tidak ingin harkat dan martabat orang papua diangkat ke tingkat nasional dan internasional melalui sepak bola.

“apalagi persipura main “bukan soal menang dan kalah tapi soal harga diri orang papua”  ini bukan sekedar slogan tapi banyak orang indonesia kenal orang papua melalui gilang gemilangnya tim mutiara hitam dalam kanca sepak bola nasional”

Itu sebabnya berbagai cara dilakukan pihak lain, untuk hancurkan persipura,  mulai dari halangi langkah persipura ke kanca Internasional, kelakuan wasit di lapangan yang mengorbankan permain persipura, jarang siaran langsung Tv Indonesia, terror  dan ancam kepada pelatih dll.

 sengaja atau tidak semua dilakukan oleh mereka tapi kenapa persipura belum hancur dan  kenapa target mereka selalu gagal, menurut saya,ada beberapa hal sebagai berikut yaitu;.? 1. pemain peripura selalu andalkan “Tuhan Yesus” sebelum pertandingan di mulai, 

2. Skil dan potensi yang di miliki Riky Kayame dan fery Pahabol dkk sulit di saingi oleh rekan lain dalam grup ISL, 3. kebanyakan pemain persipura memiliki rasa nasionalisme yang tinggi di lapangan hijau dibandingkan sekedar main bola karena dibayar.

Jadi sampai kapanpun persipura tetap top dari club lain di indonesia, sekalipun adanya upaya untuk hancurkan persipura dengan ancam dan teror kepada pelatih dan jatuhkan hukuman kepada pemain persipura. Salam Olahraga.(*)
 
Penulis adalah “Pejalan tanpa alaskaki” di pinggir kota Pasundan.
baca